Rabu, 30 Mei 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Penelitian
Salah satu hasil pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya angka harapan hidup (life expectancy). Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia pada 1983 hanya 58 tahun dan 1988 menjadi 63 tahun. Proporsi penduduk Indonesia umur 55 tahun ke atas pada tahun 1980 sebesar 7,7% dari seluruh populasi, sedangkan pada tahun 2000 meningkat menjadi 9,37%. Diperkirakan tahun 2010 proporsi itu akan meningkat  menjadi 12% dan UHH meningkat menjadi 65 - 70 tahun (Hartanto, 2009).                                  
Pembangunan kesehatan di Indonesia sudah cukup berhasil, karena dilihat dari sisi angka harapan hidup telah meningkat secara bermakna. Namun, disisi lain dengan meningkatnya angka harapan hidup ini membawa beban bagi masyarakat, karena populasi penduduk usia lanjut (lansia) meningkat. Hal ini berarti kelompok risiko dalam masyarakat menjadi lebih tinggi lagi. Meningkatnya populasi lansia ini bukan hanya fenomena di Indonesia saja tetapi juga secara global. Pada tahun 2000 penduduk usia lanjut di seluruh dunia diperkirakan sebanyak 426 juta atau sekitar 6,8%. Jumlah ini akan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2025, yaitu menjadi sekitar 828 juta jiwa atau sekitar 9,7% dari total penduduk dunia. Di negara-negara maju, jumlah lansia juga teryata mengalami peningkatan, antara lain: Jepang (17,2%), Singapura (8,7%), Hongkong (12,9%), dan Korea Selatan (7,5%). Sementara negara-negara seperti Belanda, Jerman, dan Perancis sudah lebih dulu menghadapi masalah yang serupa (Notoatmodjo, 2007).
 Gejala menuanya struktur penduduk juga terjadi di Indonesia. Biro Pusat Statistik (2004) menyimpulkan bahwa abad 21 bagi bangsa Indonesia merupakan abad lansia (era of population aging), karena pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia diperkirakan lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain. Proyeksi penduduk oleh Biro Pusat Statistik menggambarkan bahwa antara 2005-2010 jumlah penduduk usia lanjut sekitar 19 juta jiwa atau 8,5% dari seluruh jumlah penduduk. WHO pun telah memperhitungkan bahwa di tahun 2025, Indonesia akan mengalami peningkatan tertinggi di dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa di tahun 2050 jumlah warga lansia di Indonesia akan mencapai ± 60 juta jiwa. Hal ini yang menyebabkan Indonesia berada pada peringkat ke-4 untuk jumlah penduduk lansia terbanyak setelah China, India, dan Amerika Serikat (Notoatmodjo, 2007).
Kecenderungan peningkatan populasi lansia perlu mendapatkan perhatian khusus terutama peningkatan kualitas hidup mereka agar dapat mempertahankan kesehatannya. Pemerintah telah merumuskan berbagai peraturan dan perundang-undangan, yang diantaranya seperti tercantum dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana pada pasal 19 disebutkan bahwa kesehatan manusia usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kemampuannya agar tetap produktif, serta pemerintah membantu penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidupnya secara optimal. Oleh karena ini berbagai upaya dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif untuk usia lanjut (Grahacendikia, 2009).
Posyandu atau pos pelayanan terpadu merupakan program Puskesmas melalui kegiatan peran serta masyarakat yang ditujukan pada masyarakat setempat, khususnya balita, wanita usia subur, maupun lansia. Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi. Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan di posyandu lansia antara lain pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari, pemeriksaan status mental, pemeriksaan status gizi, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan hemoglobin, kadar gula dan protein dalam urin, pelayanan rujukan ke puskesmas dan penyuluhan kesehatan. Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran (Grahacendikia, 2009).
Kegiatan posyandu lansia yang berjalan dengan baik akan memberi kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, sehingga kualitas hidup masyarakat di usia lanjut tetap terjaga dengan baik dan optimal. Berbagai kegiatan dan program posyandu lansia tersebut sangat baik dan banyak memberikan manfaat bagi para orang tua di wilayahnya. Seharusnya para lansia berupaya memanfaatkan adanya posyandu tersebut sebaik mungkin, agar kesehatan para lansia dapat terpelihara dan terpantau secara optimal (Grahacendikia, 2009).
Fenomena di lapangan menunjukkan fakta yang berbeda. Posyandu lansia ternyata hanya ramai pada awal pendirian saja, selanjutnya lansia yang memanfaatkan posyandu semakin berkurang. Seperti yang terjadi di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas, dengan jumlah lansia 172 orang dan hanya ada 1 posyandu lansia. Dari data di posyandu lansia, untuk jumlah lansia yang mengikuti posyandu dalam 1 tahun terakhir ini, rata-rata hanya 10 orang per bulan. Hal ini menunjukan motivasi atau dorongan lansia untuk mengikuti posyandu lansia rendah.        
Motivasi mempunyai arti dorongan, berasal dari bahasa latin Movere yang berarti mendorong atau menggerakkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk berperilaku beraktifitas dalam pencapaian tujuan (Widayatun, 1999). Menurut Efandi (2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi lansia untuk mengikuti posyandu lansia yaitu pengetahuan lansia tentang posyandu lansia, jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau, dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk   datang ke posyandu, sikap kurang baik terhadap petugas, fasilitas kesehatan, dan kesiapan petugas.       
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada 10 orang lansia, dimana didapatkan hasil 7 orang lansia mengatakan tidak mengetahui tentang posyandu lansia, 1 orang mengatakan malas karena kegiatannya membosankan dan 2 orang mengatakan sibuk dengan pekerjaannya. Dari hasil tersebut kemungkinan faktor yang mempengaruhi motivasi lansia mengikuti posyandu lansia adalah tingkat pengetahuan lansia.
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu termasuk ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia (Suriasumantri, 1998). Pengetahuan itu sendiri banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: pendidikan formal. Jadi pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah, mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat bahwa, peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal (Wipayani, 2008).
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk meneliti “Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Lansia tentang Posyandu Lansia dengan Tingkat Motivasi Lansia Mengikuti Posyandu Lansia di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas ”.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas posyandu lansia merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia secara optimal, namun pemanfaatan posyandu lansia semakin berkurang. Dari 172 penduduk lansia yang ada di Desa Klapasawit tercatat hanya 10 penduduk yang mengikuti posyandu lansia tiap bulannya. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada beberapa lansia, didapatkan 7 orang lansia mengatakan tidak mengetahui tentang posyandu lansia, 1 orang mengatakan malas karena kegiatannya membosankan dan 2 orang mengatakan sibuk dengan pekerjaannya.
C.     Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat hubungan antara  tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia dengan tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas”.
D.          Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu dengan tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.


2.  Tujuan Khusus
a.                  Mendeskripsikan tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia di Desa Klapasawit, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.
b.                Mendeskripsikan tentang tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.
E.           Manfaat Penelitian
1.      Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai tambahan informasi yang nantinya dapat dijadikan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan khususnya yang berkaitan tentang posyandu lansia.
2.      Bagi Profesi Bidan
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai tambahan informasi yang nantinya dapat dipergunakan dalam memberikan pelayanan posyandu lansia.
3.      Bagi Lansia
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi pengetahuan khususnya mengenai posyandu lansia, selain itu diharapkan para lansia dapat meningkatkan motivasi untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia.


4.      Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan sarana untuk melatih diri dan berfikir secara ilmiah khususnya masalah posyandu lansia.
F.    Ruang Lingkup Penelitian
1.       Lingkup Waktu
  Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – Juli 2010.
2.       Lingkup Tempat
 Penelitian akan dilaksanakan di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas.
3.       Lingkup Materi
Penelitian yang dilakukan membahas pengetahuan lansia tentang posyandu lansia. Kaitannya dengan motivasi lansia mengikuti posyandu lansia.
G.      Keaslian Penelitian
   Ada beberapa penelitian yang terkait dengan tingkat pengetahuan dan tingkat    
   motivasi lansia mengikuti posyandu lansia yaitu sebagai berikut :
   Tabel 1. Keaslian Penelitian       
No
Peneliti dan Judul Penelitian
Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
Populasi dan Sampel
Tujuan
Hasil
1
Grahacendikia (2009),

Judul:
Faktor – faktor yang mempengaruhi penurunan minat lansia terhadap Posyandu lansia di Desa Pagak
Variabel: Faktor – faktor yang mempengaruhi minat lansia terhadap posyandu lansia.

Penelitian ini menggunakan metode
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk berusia lebih dari 60 tahun dengan jumlah 220 orang
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan lansia terhadap posyandu lansia di Desa Pagak Kabupaten Malang
Faktor-faktor yang melatarbelakangi penurunan minat lansia terhadap posyandu lansia antara lain 18,3% responden mempunyai pengetahuan yang kurang baik tentang manfaat
No
Peneliti dan Judul Penelitian
Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
Populasi dan Sampel
Tujuan
Hasil

Kabupaten Malang
descriptif
sedangkan jumlah sampel adalah 142 orang

Teknik pengambilan sampel dengan quota sampling

posyandu lansia, 13,3% responden mempunyai jarak tempat tinggal yang sulit untuk menjangkau posyandu, 41,7% responden mempunyai dukungan keluarga yang kurang baik, dan 8,3% responden mempunyai sikap yang kurang baik terhadap petugas.
2
Putri, Maria Mustikaning (2008).

Judul:
Aplikasi teori Snehandu B. Karr terhadap keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia di Desa Jagir Yogyakarta.
Variabel bebas adalah niat responden, dukungan kader, tokoh masyarakat, kelompok sebaya, keluarga serta kondisi dan situasi, sedangkan variabel terikat adalah keaktifan kunjungan lansia.

Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk berumur lebih dari 60 tahun dengan jumlah 186 orang, sedangkan jumlah sampel adalah 127 orang.

Teknik pengumpulan sampel dengan simple random sampling.
Untuk mengetahui aplikasi teori Snehandu B. Karr terhadap keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia di Desa Jagir Yogyakarta.
Niat berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia (p = 0,000 r = 0,470), dukungan kader berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia (p = 0,444 r = 0,244), dukungan tokoh masyarakat tidak berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia(p = 0,948),
No
Peneliti dan Judul Penelitian
Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
Populasi dan Sampel
Tujuan
Hasil





dukungan kelompok sebaya tdak berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia (p = 0,194), dukungan keluarga tidak berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia(p = 0,071), serta kondisi dan situasi berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia (p = 0,002 r = 0,371).
3
Setiowati, P (2010)

Judul:
Hubungan tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati kabupaten Banyumas.
Variabel bebas: Tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia,
Variabel terikat:
Tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia.

Penelitian ini menggunakan metode descriptif correlation, dengan pendekatan cross sectional
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk berusia lebih dari 60 tahun yaitu sebanyak 172 orang dan sampel sebanyak 63 orang.

Teknik pengambilan sampel dengan systematic random sampling
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansiadi Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas.
Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia dengan tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia (ρ = 0,263).