BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Salah satu hasil pembangunan
kesehatan di Indonesia adalah
meningkatnya angka harapan hidup (life
expectancy). Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia pada 1983
hanya 58 tahun dan 1988 menjadi 63 tahun. Proporsi penduduk Indonesia umur 55
tahun ke atas pada tahun 1980 sebesar 7,7% dari seluruh populasi, sedangkan
pada tahun 2000 meningkat menjadi 9,37%. Diperkirakan tahun 2010 proporsi itu
akan meningkat menjadi 12% dan UHH
meningkat menjadi 65 - 70 tahun (Hartanto, 2009).
Pembangunan kesehatan di Indonesia sudah cukup berhasil, karena dilihat
dari sisi angka harapan hidup telah meningkat secara bermakna. Namun, disisi
lain dengan meningkatnya angka harapan hidup ini membawa beban bagi masyarakat,
karena populasi penduduk usia lanjut (lansia) meningkat. Hal ini berarti
kelompok risiko dalam masyarakat menjadi lebih tinggi lagi. Meningkatnya populasi lansia ini bukan hanya
fenomena di Indonesia saja tetapi juga secara global. Pada tahun 2000 penduduk
usia lanjut di seluruh dunia diperkirakan sebanyak 426 juta atau sekitar 6,8%.
Jumlah ini akan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2025, yaitu menjadi
sekitar 828 juta jiwa atau sekitar 9,7% dari total penduduk dunia. Di
negara-negara maju, jumlah lansia juga teryata mengalami peningkatan, antara
lain: Jepang (17,2%), Singapura (8,7%), Hongkong (12,9%), dan Korea Selatan
(7,5%). Sementara negara-negara seperti Belanda, Jerman, dan Perancis sudah
lebih dulu menghadapi masalah yang serupa (Notoatmodjo, 2007).
Gejala menuanya struktur penduduk juga terjadi
di Indonesia. Biro Pusat Statistik (2004) menyimpulkan bahwa abad 21 bagi
bangsa Indonesia merupakan abad lansia (era
of population aging), karena pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia
diperkirakan lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain. Proyeksi
penduduk oleh Biro Pusat Statistik menggambarkan bahwa antara 2005-2010 jumlah
penduduk usia lanjut sekitar 19 juta jiwa atau 8,5% dari seluruh jumlah
penduduk. WHO pun telah memperhitungkan bahwa di tahun 2025, Indonesia akan
mengalami peningkatan tertinggi di dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa
memperkirakan bahwa di tahun 2050 jumlah warga lansia di Indonesia akan
mencapai ± 60 juta jiwa. Hal ini yang menyebabkan Indonesia berada pada
peringkat ke-4 untuk jumlah penduduk lansia terbanyak setelah China, India, dan
Amerika Serikat (Notoatmodjo, 2007).
Kecenderungan peningkatan populasi lansia
perlu mendapatkan perhatian khusus terutama peningkatan kualitas hidup mereka
agar dapat mempertahankan kesehatannya. Pemerintah telah merumuskan berbagai
peraturan dan perundang-undangan, yang diantaranya seperti tercantum dalam
Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana pada pasal 19
disebutkan bahwa kesehatan manusia usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan dan kemampuannya agar tetap produktif, serta pemerintah
membantu penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut untuk meningkatkan
kualitas hidupnya secara optimal. Oleh karena ini berbagai upaya dilaksanakan
untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif untuk
usia lanjut (Grahacendikia, 2009).
Posyandu atau pos pelayanan terpadu
merupakan program Puskesmas melalui kegiatan peran serta masyarakat yang ditujukan
pada masyarakat setempat, khususnya balita, wanita usia subur, maupun lansia.
Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan kesehatan
fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat
(KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah
kesehatan yang dihadapi. Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan di posyandu
lansia antara lain pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari, pemeriksaan
status mental, pemeriksaan status gizi, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan
hemoglobin, kadar gula dan protein dalam urin, pelayanan rujukan ke puskesmas
dan penyuluhan kesehatan. Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan
dan kondisi setempat seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan
memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan olah raga seperti senam
lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran (Grahacendikia,
2009).
Kegiatan posyandu lansia yang berjalan dengan baik akan memberi kemudahan
bagi lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, sehingga kualitas
hidup masyarakat di usia lanjut tetap terjaga dengan baik dan optimal. Berbagai
kegiatan dan program posyandu lansia tersebut sangat baik dan banyak memberikan
manfaat bagi para orang tua di wilayahnya. Seharusnya para lansia berupaya
memanfaatkan adanya posyandu tersebut sebaik mungkin, agar kesehatan para
lansia dapat terpelihara dan terpantau secara optimal (Grahacendikia, 2009).
Fenomena
di lapangan menunjukkan fakta yang berbeda. Posyandu lansia ternyata hanya
ramai pada awal pendirian saja, selanjutnya lansia yang memanfaatkan posyandu
semakin berkurang. Seperti yang terjadi di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati
Kabupaten Banyumas, dengan jumlah lansia 172 orang dan hanya ada 1 posyandu lansia.
Dari data di posyandu lansia, untuk jumlah lansia yang mengikuti posyandu dalam
1 tahun terakhir ini, rata-rata hanya 10 orang per bulan. Hal ini menunjukan motivasi
atau dorongan lansia untuk mengikuti posyandu lansia rendah.
Motivasi
mempunyai arti dorongan, berasal dari bahasa latin Movere yang berarti mendorong atau menggerakkan. Motivasi inilah
yang mendorong seseorang untuk berperilaku beraktifitas dalam pencapaian tujuan
(Widayatun, 1999). Menurut Efandi (2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
motivasi lansia untuk mengikuti posyandu lansia yaitu pengetahuan lansia
tentang posyandu lansia, jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau
sulit dijangkau, dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia
untuk datang ke posyandu, sikap kurang
baik terhadap petugas, fasilitas kesehatan, dan kesiapan petugas.
Berdasarkan studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada 10 orang lansia, dimana didapatkan
hasil 7 orang lansia mengatakan tidak mengetahui tentang posyandu lansia, 1
orang mengatakan malas karena kegiatannya membosankan dan 2 orang mengatakan
sibuk dengan pekerjaannya. Dari hasil tersebut kemungkinan faktor yang
mempengaruhi motivasi lansia mengikuti posyandu lansia adalah tingkat
pengetahuan lansia.
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang
kita ketahui tentang suatu objek tertentu termasuk ilmu, jadi ilmu merupakan
bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia (Suriasumantri, 1998).
Pengetahuan itu sendiri banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
pendidikan formal. Jadi pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan,
dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi, maka orang tersebut akan
semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti
seseorang yang berpendidikan rendah, mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini
mengingat bahwa, peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan
formal (Wipayani, 2008).
Berdasarkan latar belakang
tersebut penulis tertarik untuk meneliti “Hubungan antara Tingkat
Pengetahuan Lansia tentang Posyandu Lansia dengan Tingkat Motivasi Lansia
Mengikuti Posyandu Lansia di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten
Banyumas ”.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang masalah diatas posyandu lansia merupakan program pemerintah
untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia secara optimal, namun pemanfaatan
posyandu lansia semakin berkurang. Dari 172 penduduk lansia yang ada di Desa
Klapasawit tercatat hanya 10 penduduk yang mengikuti posyandu lansia tiap
bulannya. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada beberapa
lansia, didapatkan 7 orang lansia mengatakan tidak mengetahui tentang posyandu
lansia, 1 orang mengatakan malas karena kegiatannya membosankan dan 2 orang
mengatakan sibuk dengan pekerjaannya.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah
: “Apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia
dengan tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit
Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas”.
D.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan
Umum
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan lansia
tentang posyandu dengan tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di
Desa Klapasawit, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.
2. Tujuan Khusus
a.
Mendeskripsikan tingkat pengetahuan lansia
tentang posyandu lansia di Desa Klapasawit, Kecamatan Purwojati, Kabupaten
Banyumas.
b.
Mendeskripsikan
tentang tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit,
Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.
E.
Manfaat Penelitian
1. Bagi
Institusi Kesehatan
Hasil penelitian ini
dapat dipakai sebagai tambahan informasi yang nantinya dapat dijadikan
pertimbangan dalam pembuatan kebijakan khususnya yang berkaitan tentang
posyandu lansia.
2. Bagi
Profesi Bidan
Hasil penelitian ini
dapat dipakai sebagai tambahan informasi yang nantinya dapat dipergunakan dalam
memberikan pelayanan posyandu lansia.
3. Bagi
Lansia
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
tambahan informasi pengetahuan khususnya mengenai posyandu lansia, selain itu
diharapkan para lansia dapat meningkatkan motivasi untuk mengikuti kegiatan
posyandu lansia.
4. Bagi
Peneliti
Penelitian ini
merupakan sarana untuk melatih diri dan berfikir secara ilmiah khususnya
masalah posyandu lansia.
F. Ruang Lingkup Penelitian
1.
Lingkup Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – Juli 2010.
2.
Lingkup Tempat
Penelitian akan
dilaksanakan di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas.
3.
Lingkup Materi
Penelitian yang dilakukan membahas pengetahuan lansia
tentang posyandu lansia. Kaitannya dengan
motivasi lansia mengikuti posyandu lansia.
G.
Keaslian
Penelitian
Ada
beberapa penelitian yang terkait dengan tingkat pengetahuan dan tingkat
motivasi lansia mengikuti posyandu lansia
yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Keaslian Penelitian
|
No
|
Peneliti
dan Judul Penelitian
|
Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
|
Populasi
dan Sampel
|
Tujuan
|
Hasil
|
|
1
|
Grahacendikia
(2009),
Judul:
Faktor – faktor
yang mempengaruhi penurunan minat lansia terhadap Posyandu
lansia di Desa Pagak
|
Variabel: Faktor – faktor yang mempengaruhi minat lansia terhadap posyandu
lansia.
Penelitian ini
menggunakan metode
|
Populasi dalam
penelitian ini adalah semua penduduk berusia lebih dari 60 tahun dengan
jumlah 220 orang
|
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan lansia terhadap posyandu
lansia di Desa Pagak Kabupaten Malang
|
Faktor-faktor yang melatarbelakangi
penurunan minat lansia terhadap posyandu lansia antara lain 18,3% responden
mempunyai pengetahuan yang kurang baik tentang manfaat
|
|
No
|
Peneliti
dan Judul Penelitian
|
Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
|
Populasi
dan Sampel
|
Tujuan
|
Hasil
|
|
|
Kabupaten Malang
|
descriptif
|
sedangkan jumlah sampel adalah 142 orang
Teknik pengambilan sampel dengan quota
sampling
|
|
posyandu lansia, 13,3% responden mempunyai jarak tempat tinggal yang
sulit untuk menjangkau posyandu, 41,7% responden mempunyai dukungan keluarga
yang kurang baik, dan 8,3% responden mempunyai sikap yang kurang baik
terhadap petugas.
|
|
2
|
Putri, Maria
Mustikaning (2008).
Judul:
Aplikasi teori
Snehandu B. Karr terhadap keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia di
Desa Jagir Yogyakarta.
|
Variabel bebas
adalah niat responden, dukungan kader, tokoh masyarakat, kelompok sebaya,
keluarga serta kondisi dan situasi, sedangkan variabel terikat adalah
keaktifan kunjungan lansia.
Penelitian ini menggunakan rancangan cross
sectional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
|
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk berumur lebih dari 60
tahun dengan jumlah 186 orang, sedangkan jumlah sampel adalah 127 orang.
Teknik
pengumpulan sampel dengan simple random
sampling.
|
Untuk
mengetahui aplikasi teori Snehandu B. Karr terhadap keaktifan kunjungan
lansia ke posyandu lansia di Desa Jagir Yogyakarta.
|
Niat
berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia (p = 0,000 r
= 0,470), dukungan kader berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke
posyandu lansia (p = 0,444 r = 0,244), dukungan tokoh masyarakat tidak
berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia(p = 0,948),
|
|
No
|
Peneliti
dan Judul Penelitian
|
Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
|
Populasi
dan Sampel
|
Tujuan
|
Hasil
|
|
|
|
|
|
|
dukungan
kelompok sebaya tdak berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia (p =
0,194), dukungan keluarga tidak berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia(p
= 0,071), serta kondisi dan situasi berhubungan dengan keaktifan kunjungan
lansia (p = 0,002 r = 0,371).
|
|
3
|
Setiowati, P
(2010)
Judul:
Hubungan
tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia
mengikuti posyandu lansia di Desa Klapasawit Kecamatan Purwojati kabupaten
Banyumas.
|
Variabel
bebas: Tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia,
Variabel terikat:
Tingkat
motivasi lansia mengikuti posyandu lansia.
Penelitian ini
menggunakan metode descriptif
correlation, dengan pendekatan cross sectional
|
Populasi dalam
penelitian ini adalah semua penduduk berusia lebih dari 60 tahun yaitu
sebanyak 172 orang dan sampel sebanyak 63 orang.
Teknik
pengambilan sampel dengan systematic
random sampling
|
Untuk
mengetahui hubungan tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansiadi Desa
Klapasawit Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas.
|
Tidak
terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan lansia tentang posyandu lansia
dengan tingkat motivasi lansia mengikuti posyandu lansia (ρ = 0,263).
|